Maaf,
aku harus berkata “sialaann..!!!”. kenapa harus cinta lagi sih yang mengganggu
otakku? Mungkin disarankan memang benar harusnya ada dokter cinta. Soalnya
cinta terkadang lebih menyakitkan dari sakit kepala akut, atau gigi berlobang
penuh coklat!
Entah
hari apa, aku sudah berjanji tidak berjanji tidak ngutak-atik lima huruf
menjijikkan itu. Tapi, ada beban moral rasanya kalau aku tidak menyampaikan hal
ini. Mungkin tidak ada manfaatnya, tapi coba saja dibaca!!
Malam
ini (aku masih bingung menyebutnya malam-tengah malam-atau pagi), masih dengan
mimpiku yang ngebet pengen kaya Carrie Bradshaw, mencoba menjernihkan setiap
inci bagian otakku, berharap ada bahasan yang lain yang bisa ku urai kecuali
CINTA! Ah damn!* aku tak punya pilihan lain, aku bosan harus bertanya seperti
orang bodoh, tapi lagi-lagi harus keluar dari mulut sexy gue “kenapa cinta
lagi? Basii!”Andai ada pilihan, aku lebih suka menyebutkan satu persatu setan
yang pernah eksis di layar lebar atau setan seri pilihan dibangunan tua
belakang bioskop RAMA. Toh setan dan cinta keduanya sama-sama menakutkan buatku
(sekarang). Bedanya, aku tak pernah mencintai setan* (apa iya?). atau aku
harusnya menjejerkan cinta dengan gaun-gaun cewek warna pink (ouch..
menjijikkan!!).
Aku
tak tahu harus bagaimana menilai diriku yang sekarang. Sebenarnya banyak beban
dimataku yang coba kupilah satu persatu. Seperti penulis tenar yang sudah punya
kolom pribadi di sebuah majalah terbitan ibu kota, itu aku sekarang! Oh my God,
tapi kenapa harus CINTA sih? Ada yang punya jawabannya kenapa cinta? Jiah, gue
mulai bego!Tapi aku sudah bertekad, tidak ada lagi puisi murahan macam kaleng
rombeng tentang CINTA (itu sudah pernah, dan tidak untuk kesekian kalinya!)Itu
adalah monolog gila pembuka cerita malam ini. Sudah kuputuskan akan berbicara
apa. Di monolog pembukaan aku ngoceh sana-sini soal cinta, maaf ya aku ingkar
janji. Aku nggak secara khusus membahas cinta yang luas banget kalau mau
diobrak-abrik. Tapi mungkin agak nyambung dikit kalau kita ngomongin kawan
dekatnya cinta ini.JOMBLO itu PRINSIP bukan NASIB* (kata-kata yang pernah
kudengar dari seorang teman) Awalnya aku hanya terkesan lewat beberapa kata
menakjubkan itu, dan aku hanya ngangguk-ngangguk. Dalam hatiku “bener juga tu
kata-kata!” dan keukeuh dalam sanubari ini, “gue jomblo (apa) karena prinsip!
(?)” . dan sebaiknya tak perlu kujawab, karena mungkin akan memalukan! Aku juga
nggak tertarik mencari perbedaan kata prinsip dan nasib, karena memang keduanya
jelas berbeda (untuk mengurangi kesan bego-ku).
Aku
mulai mencari untung-ruginya, dan membandingkan (tentu bukan kehidupanku
sebagai bandingannya, hanya melihat realita zaman sekarang-dan mungkin sedikit
banyak terpengaruh sinetron). Dan aku juga tak perlu merenung terlebih dulu
apakah aku jomblo karena prinsip atau nasib! Its fk!
Jomblo
(aku tak pernah punya niat menyontek dari sebuah catatan yang pernah jadi
bahasan di koran pingir trotoar alun” kota) pasti dekat kaitannya dengan
kesendirian, tentu tanpa pacar (aku coba melihatnya dari sudut pandang
perempuan –ya ampun feminis banget- karena seorang lelaki sudah pernah mencoba
menguraikan pendapatnya, ya biar adil aja!), dan aku mencoba berfikir positif,
dengan kesendirian aku hanya dituntut oleh diriku sendiri dalam segi fashion,
karena tidak ada ocehan tentang apa yang aku kenakan sedang nge-trend atau
kuno. Dan aku tidak diwajibkan bersolek dengan gaya rambut yang aneh dan
berpakaian yang mahal atau menunggangi motor ninja untuk terlihat –lebih- cakep
(ini yang sering aku lihat disekitarku, hanya demi pacar biar nggak lirik
sana-sini cowok biasanya rela berdandan mati-matian). Bahkan berani taruhan,
mari kita geledah tas cewek-cewek sekolah sma jaman sekarang (yang sudah punya
pacar), isi tasnya lebih banyak kosmetik ber-merk mulai dari untuk urusan pipi,
mata, bibir daripada buku wajib yang harus mereka bawa saat jam kuliah (minjem
itu lebih praktis- itu prinsipnya). Muka, baju,sepatu, tas, rambut jadi urusan
ribet untuk dibahas. setiap hari rasanya harus match-ing antara baju dengan
kuteks kuku, atau sepatu dengan eyes-shadow (bener nggak nulisnya, ah aku nggak
tahu dan aku tidak terlalu peduli-_-). Sisir harus duapuluh empat jam berada
ditas karena nggak mau terlihat acak-adul didepan pacar (kalau masalah ini aku
masih toleran, dan setuju kalau cewek apalagi yang berambut wajib membawa sisir
kemana aja, ibaratnya seperti kantong ajaib bagi doraemon atau tongkat sihir
buat Harry Potter). Dari cara berjalan-pun harus diatur, maksudnya biar
terlihat anggun dan bukan berarti pas nge-jomblo bisa seenaknya juga sih, tapi
aku yakin maksudku tersampaikan (you know me so well-lah)*Ngomong opo lah...
Kayaknya
ribet banget ya punya pacar, harus sempurna setiap saat. Udah macam artis saja,
yang harus terlihat berbinar-binar disorot media padahal mata super duper
ngantuk. (tentu ini sangat subyektif, bisa dikritik atau diusik, silahkan!
monggo). Belum lagi masalah dengan teman-teman bermain yang sedikit banyak
tersita untuk bersama pacar, biasanya sih sahabat-sahabat yang katanya ngertiin
kita itu pada komplain dengan kesibukan baru kita. Masalah yang sangat
dimungkinkan muncul, tunggakan yang memberngkak. Dari tagihan pulsa, urusan
beli baju yang harus selalu ngikutin trend, kebutuhan beli make-up ini itu atau
sekedar hasrat nyalon yang selalu datang tiap tiga hari sekali. Oh my Dick, ampun deh jadi cewek ini (hanya khayalan
penulis gila saja, tapi cukup menggambarkan kenyataan yang ada.. hahaha.. ). Mungkin
agak lari-lari dari bahasan tentang jomblo dan tetek bengeknya, aku tergelitik
dengan sebuah pernyataan yang mondar-mandir minta disuarakan, berharap ini
menjadi sebuah penyadaran masal.“..Kenapa sihh cewek ribet banget kalau mau
ketemu pacar, harus dandanlah, mandi kembanglah, luluranlah, make-up-an
berjam-jam lah belum lagi untuk me-match-kan gaun sama tas sama sepatu sama
warna kuku, ampun deh lima tahun sepuluh hari nggak kelar. Padahal cowok lebih
suka cewek yang apa adanya* (begini penjelasannya, biar lebih sopan saja sih.
Faktanya cowok lebih suka melihat cewek yang nggak pake apa-apa ~bugil bahasa
gaulnya, ya toh? )..”*maaf kalau kata-kata diatas nggak sopan! Nggak deng kata
itu aku sedikit bercanda.. iya sedikit bercanda.. its fk!
Oke, kembali lagi ke bahasan jomblo sodara-sodari.Seperti yang sudah disinggung panjang lebar tadi, memang aku harus membenarkan opini murahanku tentang jomblo nggak ribet! Dan aku tak butuh dukungan untuk menguatkan pendapatku, toh yang sekarang punya pacarpun merasa ribet walau mencoba menutupinya atau malu mengungkapkan keribetannya (aku yakin seratus persen). Mungkin pembelaannya begini, “ aku kan cinta sama pacarku, ribet-ribetan dikit nggak papa dong, kan buat pacar. Penulis kampungan ini lagi jomblo aja, makanya bisa bilang begini! ”Ya, aku sudah bisa menebak arah hujatan padaku! Pasti akan ada yang berkata demikian, dan aku tidak keberatan. Karena sekali lagi aku bilang, tulisan ini sangat subyektif penulis yang sedang menjomblo. Atau nanti suatu saat kalau aku punya pacar, akan kubeberkan suka-duka pacaran. Bagi jomblo-jomblo sekalian, juga boleh berutara tentang dukanya sebagai jomblo. Atau juga boleh setuju dengan keuntungan menjomblo seperti yang kubahasakan. Nggak adil banget kalau aku tidak memberikan opini tentang duka-nya menjadi jomblo. Ini bukan kesimpulan, hanya takut lupa menyampaikan amanat penting, dan hanya sekedar mengingatkan dan tolong digarisbawahi. Jomblo bukan berarti cuek akan penampilan diri. Jomblo juga berhak ganteng/cantik, mungkin nggak se-lebay kalau punya pacar (mungkin begini pasnya- cantik/ganteng adalah hak asasi, dan tidak baik mengingkari diri sebagai pribadi yang ganteng/cantik karena kita sedang menjomblo. Jomblo bukan masalah selera yang naik turun sesuai permintaan pasar, detik ini kalau diminta punya pacar-pun sebenarnya bisa!! *Akehh sing ngantri aku jann e rek...) (ya, saat lagi jomblo seperti ini ocehan kegiranganku. Nggak terlalu ribet dan ribut ngurusin cinta plus cemburumanianya atau panas dingin seputar patah hati. And I can say “ I’m free!!..”) Aku nggak mau dibilang nggak adil. Oke aku akan bicara tentang duka sebagai jomblo. Kupikir-pikir selama beberapa detik. Dan kutemukan jawabannya, duka sebagai jomblo hanya karena tidak punya pacar dan itu tak terlalu jadi masalah, sebab mendapati diri ganteng belasan cewek kayaknya sudah ngantri didepan rumah buat jadi pacar gue (maaf, lagi-lagi gila). Dan kupikir itu bukan duka, lebih tepatnya dinamika kehidupan. Ya ada saatnya berpasangan, ada kalanya sendiri. Toh, menjomblo juga nggak parah-parah amat rasanya.Ini terakhir dan kesimpulan:
*Aku jomblo dan aku menikmatinyaaa.. Dan sahabat disekitar lah yang terbaik *assik dah!!*