TAK KELAR

Beberapa akhir cerita memang dibuat tanpa sesuai dengan apa yang selama ini kita damba. Aku pernah mendambakan, aku akan terus dan terus berjuang sampai waktu yang tak terhingga, namun ternyata ini, lagi-lagi harapan yang tak kunjunga menjadi nyata. Entah sudah tetes keringat yang ke berapa dan kamu tetap saja tiada.

Perjuanganku adalah sepanjang jalan yang tidak untuk diteruskan pun dipertahankan. Maka semoga aku semakin mengerti jika keinginan dan kenyataan hanyalah dua jalur berbeda, dan tidak selalu berjalan beriringan.

Keping-keping hati coba kukumpulkan seorang diri. Biar perih, biar sedih, biar saja. Kurawat luka sembari menunggu kamu kembali bersama asa. Ingin tetap kamu sebagai akhir perjuangan ini, masih bolehkah?

Meski sulit jalan menujumu, aku tetap ingin kamu. Sebab mengharapmu dan lupakanmu itu tiada beda, tetap kutanggung sendiri segala akibatnya.

Seakan tak peduli pada siapa yang sedang bersanding denganmu di sisi, aku tetap berharap kita yang akan bersatu kelak. Sesulit itu untuk membuka pintu hati, ketika yang kuinginkan hanyalah menutupnya. Karena tidak ada ruangan yang tersisa bagi mereka yang ingin datang dan singgah.

Ingatkah kamu tentang semua usaha yang membuatku berpegang pada harap?

Tentang seberapa tangguh aku dihadapanmu, tak ingin mencari pelabuhan di lain hati. Tentang kamu yang selalu bawakanku pesona pelangi, tapi tiada seakan tiada boleh harap untuk menharap dan memiliki. Tentang kamu dan rautmu, kamu dan senyummu, kamu dan masa depan yang aku harap. Kamu yang kini hilang entah ke mana, mengingkari segala harap nan ternyata pilu.

Dan kini kutemukan kamu bersama dia, menghancurkan segala cita dan rasa. Sendiri aku berusaha mengolah keringat untuk mendapat ridhamu, meski kecil kemungkinan untuk menjadi satu dari sekian alasan. Lisan yang trus menghemubuskan udara sendu,bibir mulai mencibir, mencari jemarimu yang sudah terengah. Kedua tangan hampa mencari pegangan, yang tersisa tinggal angan-angan. Aku tak jauh berbeda dengan mereka di luar sana, mengharap pada sesuatu yang tidak mungkin menjadi ada.

Sekejap sajah aku untukmu, bolehkah?

Sekejap sajah aku ingin bertemu dan membisik tentang angan ini, bolehkah?

Betapa permintaan sederhana sudah mustahil kamu dengar. terlebih untuk bersama, kuyakin hanya lelah jika terus kukejar.

Tak yakin apa yang mampu buat semangatku luluh, sebab mencintamu adalah sebagian dari kepingan yang tercecer dijalan-jalan. Tak yakin siapa yang mampu mengganti kamu, sebab segala isi hati masih namamu terpatri.

Seandainya akan tersentuh hatimu untuk datangiku, ketahuilah pintu hati masih seperti yang lama dan terus membaru. Seandainya ada inginmu untuk kembali dekatiku, ketahuilah bahwa aku tidak memiliki alasan untuk mengelak. Dan hatiku tidak akan ke mana-mana, ia masih bertahan pada harapan yang sama. Semoga akan datang saatnya di mana aku dan kamu akan menyatu atau hanya sekedar akrab, meski terlihat sangat sulit untuk percaya.

@KuanIn

0 komentar: